PENANTIAN DAN PAGI K TUJUH - Radar Madura (Jawa Pos), edisi: 1 September 2013
PENANTIAN DAN PAGI KE
TUJUH
(Benny Can)
Matahari yang berarak menemui jingga dan menutup hari.
Terlihat, terhitung satu demi satu bintang bersinar menghias langit yang
memudar menunjukkan malam untuk berlanjut. Angin berhembus menyertakan dingin
seraya ingin segera mendekap semua yang menyebut dirinya adalah makhluk hidup.
Diantara itu, aku yang tak mampu menolak sekedar
berpaling. Bintang seolah berjalan beriringaan ingin menemui barat, menuntunku
menjejakkan kaki sekedar membuag rasa resah yang tak menentu. Arah itu adalah
dermaga untuk akhir jengkal menggukur jalanan.
Menikmati keindahan alam raya dari luas lagit yang terpandangi. Tertatap
bulan dintara bintang walau tak purnama melukis tatapan tanpa atur. Tapi, resah
dari perasaan masih menyirat dalam ingatan hingga gundapun sering memuncak
membuyar semu dari keindahan.
“Tuhan, pantaskah aku untuk dipersalahkan dalam cinta
bila menginginkan Rendi pemilik hati ini. Perasaan ini tak mampu sekedar
bersandar seperti kapal yang aku pandangi di tepi dermaga ini. Entahlah apa
yang terjadi dengan lautan asmaraku, kadang berombak tanpa angin hingga amarah tercurhat.
Apakah aku harus mendayung perahu diterjangan
ombak tanpa arah hingga malam terlewat dan pagi adalah di pulaunya? Tuhan,
tunjukkan arah dan keadilan bila itu kehendak, untuk merasakan kebahagian dari
cinta yang teranugrahkan,” teriakku seraya mencurhatkan perasaan.
“Hei, berisik banget,” kata orang di perahu yang lagi
mancing.
Aku yang menganggukkan kepala dan menyadarinya. Sesaat
itu terasakan pantulan cahaya bulan menyentuhkan kening seolah ingin
menghapuskan air mata yang tanpa sadar melewati kening. Dalam lama termenung,
dalam diam terhayal, ingin saja meloncat tapi itu urung karena ingat dosa yang
tak tertanggung nantinya.
“Rani, pulang udah larut malam,” ibu yang
baru datang menarik tangan.
Tanpa kata hanya mengikuti permintaan ibu,
beranjak meninggalkan dermaga yang tak menghibur karena dermaga hanya membisu,
tanpa ada jawab dari resah rasa yang terasah.
Teman tanpa sapa adalah bantal guling setia menemani
renungan melewati pergantian detik memutar waktu. Mencurahkan semua pada diary karena
perasaan mengharuskan tercurhat di malam ini.
“Rendi, begitu aku selalu memanggil mengingatmu. Aku
sebut diri adalah keindahan yang Tuhan ciptakan dan berharap kamulah pemilik
raga dari keindahan. Malam yang selalu terlewat seperti malam ini aku menunggu
pagi untuk bekukan perasaan ini bila embun menyapanya, tapi itu kiranya tak
mampu karena matahari selalu berarak siang dan mencairkannya. Aku dalam ketidak
mampuan untuk menyalahi kodrat seorang wanita, tak ingin melukis sejarah bila aku
menyatakan terlebih dahulu. Aku inginkan kamu tahu semua ini dan pernyataan
rasa darimu yang aku harapkan,” tulisku dalam diary diantara malam yang ingin
melelapkan dan angin santun seolah menina bobokkan.
Terdengar gertak hujan menghantam genteng, menyadarkan
aku dari tidur dan segera tersaji nyatanya dunia. Jam berdenting menunjukkan
angka lima pertanda pagi akan segera menyapa, tapi gelap masih menghukumnya karena
hujan mendahului. Aku hanya berbaring dan pasrah karena embun tak tertemui
untuk sesaat membekukan perasaan hingga adalah bayangannya selalu ada seolah
menemani menunggu redah.
Detik yang berlalu berganti angka, sinar matahari
mulai nampak menembus dinding, pertandakan hujan mulai terlewat dan matahari
tanpa sadar sudah meninggalkan timur.
“Rani, bangun,” teriak ibu dan sesaat itu aku bangkit
dari berbaring.
“Iya Bu,” jawabku.
“ Rani, ibu temukan surat terbungkus plastik di pintu
gerbang dan saya kira ini untukmu,” kata ibu.
“Rani, tadi malam aku mendengar curhatmu pada alam,
karena perahu yang kamu lihat didepanmu itu adalah aku dan orang yang menegurmu
adalah orang tuaku. Aku hanya mau bilang Kalaupun jujur kau persilahkan, aku mencintaimu
dengan ketulusan. Maafkan aku tak bisa menunggu sampai pintu gerbangmu terbuka,
aku harus pergi ikut keluargaku ke luar kota karena bapaku berpindah tugas.
Rendi,” tulisnya dalam kertas.
Bergegas saja mengambil motor dan segera menemui Rendi
dirumahnya. Perasaan senang akan ungkapan cinta yang selama ini diharapkan dan
rasa gelisa juga tak bisa dipungkiri karena secepat itu Rendi akan pergi dari
kota ini.
“Rendi,” aku memanggil dan menghampirinya di
mobil.
“Rani, ngapain kesini?” Katanya sambil turun
dari mobil yang sudah siap berangkat.
“Aku juga mencintaimu dengan ketulusan. Jangan pergi
karena aku tak ingin kehilanganmu,” tegasku sambil memeluknya.
“Rani, dengarkan aku. Aku bahagia saat ini, karena perasaan
cinta yang lama terpendam telah berbalas,” katanya.
“Tapi,” kataku diantara tangis.
“Rani, aku tak akan meninggalkanmu, aku tetap disini
menemanimu dan tinggal bersama nenek. Tapi sekarang aku harus pergi, aku akan
kembali dalam tujuh pagi yang berganti.
“Aku pergi dulau ya, jaga dirimu. Kita ngobrol aja di hp,
tapi jangan dimatikan seperti tadi malam dan sampai sekarang, yang ada aku
kehujanan di depan rumahmu,” katanya sambil berpamitan dan naik ke mobil.
Lambayan tangan dan
senyum terlihat serta balas lambaian tangan merelakannya pergi. Siang harus terjalani dan
bila malam tiba harus bersabar diri menunggu pagi ke tujuh.
Posting Komentar untuk "PENANTIAN DAN PAGI K TUJUH - Radar Madura (Jawa Pos), edisi: 1 September 2013"